Pelajaran Bangkit dari Kegagalan


Kalimat itu diucapkan oleh Alfred Pennyworth bersama intonasi yang menarik. Pada saat ini, orang tua itu menyelamatkan Bruce Wayne, yang hampir dikuburkan di bawah puing-puing bangunan Istana Wayne Manor, yang dibakar oleh musuh utama, Ra’s al Ghul. Di sedang situasi kekalahan dan keputusasaan yang dialami Bruce, Alfred mengajukan pertanyaan. “Kenapa kami jatuh?” di mana dia sendiri menjawab: “Agar kami mampu studi untuk mengangkat diri kami sendiri”. Kenapa kami jatuh? Sehingga kami mampu studi bangkit. Apa jawaban Bruce? “Kamu tidak menyerah padaku.” “Ah, rupanya kamu tidak menyerah padaku,” jawab Alfred, “tidak pernah”. Percakapan manis di elevate yang diimprovisasi di tengah-tengah api amarah yang memotivasi Bruce untuk keluar dari jebakan. Melalui obrolan ini ia studi dari kegagalan. Menjadi lebih kuat dan lebih kuat. Akhirnya dia mampu mengalahkan Raa Ghul dan menyelamatkan kotanya.

Bagi saya, obrolan Alfred dan Bruce di tengah-tengah Api Besar menjadi anggota paling baik di dalam Batman Begins, sekuel pertama film reboot Batman oleh Christoper Nolan terhadap 2005, diakui sebagai keliru satu film superhero paling baik yang dulu dibuat. Saya ragu bahwa obrolan batin semacam itu sudah memperkuat mental para lajang India untuk wanita, Pusarla Venkata Sindhu, dari serangkaian kegagalan di dalam kariernya. Hingga akhir pekan lantas dia perlihatkan kepada dunia bahwa dia kelanjutannya mampu menjadi juara dunia. Ketika Sindhu dulu disebut “rider”, ia kelanjutannya menjadi juara dunia
Ya, tempo hari sore Sindhu ini kelanjutannya mampu tersenyum lebar di akhir pertandingan terakhir. Pemain bulutangkis berusia 24 th. ini memenangkan Piala Dunia BWF dengan kata lain Piala Dunia 2019 di Basel, Swiss, sehabis mengalahkan pemain bulutangkis Jepang Nozomi Okuhara bersama skor ‘bagus tapi kejam’ 21-7, 21-7.

Karena pukulan keras itu tidak mampu dikembalikan oleh Okuhara dan menjadikannya juara dunia, Sindhu membeku di lapangan. Selama sebagian detik tangannya menutupi wajahnya bersama sukacita yang tak termasuk jumlahnya. Lalu senyumnya pecah. Kemudian berlari untuk memeluk pelatih. Adegan tersebut berfokus terhadap Okuhara. Sindhu berjabat tangan di depan jaring dan tersenyum serta menghibur Okuhara, yang nampak kaget bersama kekalahan yang menjengkelkan itu. Di luar lapangan mereka sebenarnya adalah teman. Ketika mesti mengalahkan lawan yang dikalahkan, Sindhu tidak lagi bersimpati. Namun, ia setara bersama empati. Dia kerap terasa di dalam posisi layaknya Okuhara. Ya, tidak tersedia wanita di dunia yang tetap bermain aktif tidak dulu merasakan pahitnya kekalahan di final yang dialami Sindhu. Bahkan, dia termasuk kerap juara. Namun, di dalam kejuaraan penting, Sindhu layaknya “kutukan.” Dia kerap keluar di final untuk lihat lawannya terima medali / trofi dari sang juara.

Bayangkan kalah 16 kali di final sepanjang karir bulutangkis profesionalnya. Termasuk dua kekalahan di Final Piala Dunia. Dan kekalahan paling berat di final di Olimpiade 2016. Bagi seorang atlet, rasanya tidak tersedia yang lebih pahit daripada terasa dikalahkan di final. Apalagi terkecuali itu berjalan berulang-ulang. Karena kerap kalah di final, oleh penggemar bulu tangkis, Sindhu bahkan disebut sebagai “Ratu kedua”. Itulah mengapa gelar dunia di Swiss untuk Sindhu layaknya hujan turun sehabis kekeringan yang amat panjang. Dia kelanjutannya memenangkan kejuaraan mutlak sehabis serangkaian kekalahan bergerak. Yang lucu adalah bahwa pemain bulutangkis, yang dikenal Malika oleh para penggemarnya, tampaknya lupa bahwa ia saat ini menjadi juara dunia dikala ia diwawancarai oleh wartawan sehabis naik ke panggung. Mungkin gara-gara amat bahagia. “Aku kelanjutannya menjadi juara nasional!”, Ucapnya dari Timesofindia.

Kemudian dia mengoreksi bersama cepat. “Maaf, maaf juara dunia!” Katanya sambil tertawa. Adalah normal bagi Sindhu untuk larut di dalam euforia kemenangan. Gelar juara dunia sudah lama diimpikan. Enam th. lalu, dikala dia berusia 18 tahun, Sindhu, yang pertama kali keluar di Piala Dunia, cuma memenangkan medali perunggu. Setelah semua, itu sudah membuatnya histori sebagai single wanita India pertama yang memenangkan medali di Piala Dunia. Setahun kemudian, sepanjang Piala Dunia 2014, ia berhenti lagi di semi final dan memenangkan perunggu. Bagaimanapun, ini adalah histori lagi. Dia memenangkan medali lagi ke belakang.

Setelah ‘menghilang’ dari podium sepanjang tiga tahun, terhadap th. 2017, di Skotlandia, Sindhu mampu tampil di final untuk pertama kalinya. Namun, ia cuma memenangkan medali perak sehabis dikalahkan oleh Okuhara melalui permainan karet yang menyakitkan, 19-21, 22-20, 20-22. Setahun kemudian, di Nanjing, Cina, ia berikan peluang untuk menjadi juara dunia terhadap 2018 sehabis lagi ke final. Tapi mimpinya menjadi juara dunia sehabis dikalahkan oleh tunggal wanita Spanyol,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *